Solo Traveling Aman Bersama Trac

Generasi milenial terkenal dengan kecintaan mereka pada traveling. Selain bisa diunggah di social media untuk alasan eksistensi, sebagian besar ada pula yang memanfaatkan hobi  tersebut untuk menghasilkan uang, salah satunya sebagai travel blogger. Mengeksplorasi dunia memang merupakan kegiatan yang menyenangkan dan menantang, apalagi jika dilakukan sendirian alias solo traveling.

Solo Traveling sendiri masih menjadi momok yang mengerikan bagi sebagian orang, khususnya bagi mereka, kaum hawa. Banyaknya penipuan dan pelecehan yang kerapkali terjadi membuat wanita enggan melakukan perjalanan seorang diri.

Padahal jika ditelusuri lebih dalam, ada banyak sekali pengalaman yang bisa ditemukan di balik solo traveling. Apa saja? Mulai dari pembelajaran dalam hal manajemen waktu hingga kebebasan untuk menentukan tempat tujuan yang akan disinggahi tanpa perlu menunggu orang lain untuk melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya.

Hal serupa pun pernah terjadi pada saya. Pada suatu kesempatan, saya ditugaskan untuk melakukan perjalanan dinas seorang diri ke kota Medan. Kota dengan Danau Toba sebagai ikon wisatanya itu belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Rasa cemas pun sempat menyelimuti pikiran saya, terlebih saat tiket pesawat dan hotel telah berada di tangan saya.

Singkat cerita karena tidak ada pilihan lain, sampailah saya di Bandara Kualanamu Medan untuk memulai perjalanan dinas. Di sana, saya dijemput oleh kendaraan yang telah dipesan sebelumnya oleh perusahaan saya. Lega sekali rasanya ketika melihat armada yang menjemput ternyata adalah kendaraan milik Trac dari Astra Group. Saya pribadi tahu betul bahwa armada ini sangat profesional di bidangnya dan dapat diandalkan untuk menemani perjalanan saya. Rasa insecure yang sebelumnya sempat hinggap pun segera lenyap tanpa bekas. Dengan kendaraan yang nyaman, pelayanan yang ramah dari para insan Astra dan penguasaan pengemudi yang baik atas lokasi-lokasi yang ada di Medan pun sangatlah menjawab kebutuhan saya sebagai orang asing di kota baru yang belum pernah saya singgahi ini.

Medan sendiri merupakan kota yang sangat menarik untuk dikunjungi. Banyak sekali kuliner yang ditawarkan, mulai dari Bolu Meranti yang sudah sangat terkenal, teri medan, Ucok Durian yang sanggup menggoyang lidah para pecinta durian hingga berbagai jenis makanan khas laut yang tersedia di banyak tempat di kota ini. Selain itu bagi kalian, para pecinta pedas, sangat disarankan untuk mencoba sambal Andaliman, yang konon katanya sanggup menggetarkan lidah setiap penikmatnya. Kuliner di Medan masih menjadi juara di hati saya, selain danau Toba yang juga adalah destinasi favorit dengan pemandangan yang sangat menyejukkan mata. Rasanya tidak ingin kembali ke Pulau Jawa setelah mampir ke kota ini.

Selain kuliner, saya sempat dibuat kaget oleh budaya dan cara orang asli Medan berkomunikasi. Waktu itu, mobil yang saya tumpangi sedang diarahkan untuk parkir. Alih-alih mendengar orang yang memberikan instruksi, yang terdengar di telinga saya justru suara juru parkir yang berteriak-teriak memarahi pengendara mobil yang  saya tumpangi tersebut. Setelah beberapa kali merasakan kejadian serupa saat parkir, saya pun bertanya kepada penduduk asli sana dan mendapatkan jawaban bahwa memang cara bicara seperti intonasi yang tegas dan suara yang kencang adalah hal yang lumrah di sana, tentu saja hal tersebut sangat berbeda dengan kebiasaan penduduk di Pulau Jawa, tempat saya berasal. Sekalipun begitu, penduduk asli sana sangatlah ramah ketika saya bertanya banyak hal tentang ciri khas kota mereka. Dari situ, barulah saya mengerti dan mendapatkan satu lagi pemahaman baru tentang budaya.

Hal lain yang membuat saya takjub adalah keberadaan gereja Katolik yang bentuknya menyerupai vihara, namanya Graha Maria Annai Velangkanni, ditambah patung Dewi Kwan Im yang begitu besar di Pematang Siantar.

Processed with VSCO with f2 preset

Sejuk rasanya melihat banyaknya keberagaman suku dan agama yang hidup saling berdampingan di Medan ini. Seperti kita ketahui, Medan sendiri tidak hanya terdiri dari penduduk asli, tapi ada pula suku pendatang seperti Chinese Medan yang sudah cukup dikenal. Sejauh saya melihat, mereka saling menghargai dan memberikan kebebasan dalam hal beribadah.

Pengalaman pertama tersebut sangatlah berkesan dan berhasil membuat saya jatuh cinta pada solo traveling. Setelah berhasil menjelajah Medan dengan selamat, saya pun kembali memercayakan perjalanan dinas saya selanjutnya kepada Trac, dengan tujuan ke Balikpapan, Lombok dan Bali. Dengan jangkauan yang hampir merata di seluruh Indonesia, serta memiliki kontribusi yang besar dalam memajukan pariwisata di Indonesia, armada dari Astra Group ini masih terus menjadi andalan saya dalam ber-solo traveling hingga hari ini.

Bepergian seorang diri pun bukan lagi menjadi masalah bagi saya. Justru dari perjalanan seorang diri inilah saya mendapatkan banyak sekali hal-hal baru yang sangat berkesan, mulai dari bertemu, berkenalan hingga berinteraksi dengan banyak orang dan mempelajari budaya yang ada di berbagai belahan negeri ini.

Terima kasih telah menjadi teman setia selama perjalanan saya menjelajah negeri ini seorang diri, Trac.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s