Yuk Kita Nabung

“Cukup atau engganya gaji itu tergantung dari gaya hidup. Yang bagus itu, gaji terus bertambah, tapi gaya hidup segitu – segitu aja dan engga perlu pusing mikirin kehidupan orang lain, jadi tabungan kita yang gendut, bukan badan kita haha  – suami saya”

Saya pun termenung sebentar dan mengamini kalau dari kalimat simple itu, kita bisa belajar banyak hal. Apa saja?

  1. Benar kalau kita tidak perlu mengikuti gaya hidup orang lain. Apalagi kalo tidak sesuai dengan kemampuan kita. Alih-alih bahagia, yang ada malah menyiksa diri sendiri, apalagi dompet kita kan.
  2. Benar kalau kita tidak perlu melihat terus ke atas, sekali-kali kita perlu juga melihat ke bawah, supaya kita bisa bersyukur. Melihat ke atas tentu boleh, tapi buat sekedar pemacu saja.
  3. Sekalipun gaji atau penghasilan bertambah, haruskah gaya hidup berubah? Tidak juga. Mungkin lebih baik uangnya disisihkan dan ditabungkan untuk membeli keperluan yang sekiranya kita butuhkan, tanpa menyicil dengan bunga yang cukup besar misalnya.
  4. Lagipula dengan menjalani hidup yang tidak berlebihan, kita jadi punya ruang untuk mempersiapkan dana darurat, yang besar idealnya adalah 3 kali dari pengeluaran rutin kita setiap bulannya. Dana ini penting untuk mengantisipasi hal yang tidak terduga seperti sakit dalam waktu yang cukup lama ataupun tiba – tiba ada yang terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).

DSCF2271 resized

“Bing beng bang
Yuk kita ke bank
Bang bing bung
Yuk kita nabung
Tang ting tung hey

Jangan dihitung
Tau tau kita nanti dapat untung”

Masih ingatkah lagu yang satu ini? Lagu ini judulnya Menabung ciptaan Titiek Puspa.

Lagu anak yang populer di jaman kecil saya ini sesungguhnya mengajarkan kita untuk mulai menabung sedari kecil sehingga kelak ketika besar, kita sudah memiliki bekal untuk menata masa depan.

Beruntung saya memiliki ibu yang sedari kecil sudah mengajarkan saya untuk menabung, sehingga saya cukup terbiasa melakukannya hingga saya berumah tangga saat ini.

Prinsip menabung ini sederhana, jika kita terbiasa menabung dari pendapatan yang belum seberapa, sebut saja misalnya dulu, sewaktu jaman sekolah, ketika saya mendapatkan uang jajan setiap bulannya Rp 300.000,- dan diajarkan untuk menabung sekitar 20%-nya, maka dari awal, uang sejumlah Rp 60.000,- tersebut sudah saya sisihkan dan saya akan merasa nominal tersebut tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan total nilai yang saya dapatkan.

Lama kelamaan prinsip hidup tersebut melekat dalam hidup saya, sehingga ketika penghasilan saya bertambah pun, 20% dari total pendapatan saya yang harus direlakan untuk masuk ke pos tabungan bukan lagi suatu masalah yang besar bagi saya.

Kenapa hal ini penting? Karena jika kita tidak terbiasa menyisihkan tabungan dari nominal yang kecil dan baru berusaha menabung ketika nilai pendapatan kita sudah cukup besar, akan terjadi hal berikut.

Misalnya, penghasilan kita adalah Rp 15.000.000,- setiap bulannya dan 20% dari nilai tersebut adalah Rp 3.000.000,- maka kita akan secara otomatis menganggap nilai tersebut adalah nilai yang cukup besar dan mulai bermunculan pemikiran semacam ini,

“Wah, Rp 3.000.000,- ini kalau dibelikan barang, bisa dapat apa saja ya?”

“Wah, daripada ditabung mendingan dipakai untuk ……”

“Sayang juga ya kalau Rp 3.000.000,- ini semuanya untuk ditabung, bagaimana jika sebagian digunakan untuk …. saja”

Nah, ketika kita belajar setia dari nominal yang kecil, maka kita akan terbiasa menabung dengan nominal yang kesannya “besar”.

Jadi menurut saya pribadi, penentuan besarnya nilai tabungan lebih baik menggunakan persentase dibandingkan sekedar nominal dan tidak ada salahnya untuk memulainya hari ini, ketika penghasilan kita mungkin sudah cukup besar, dibandingkan tidak sama sekali.

Berikut saya bagikan sedikit tips dan trik yang saya dan suami mulai hidupi sejak 2 tahun belakangan, sebagai berikut:

  • Agar bisa menabung, total cicilan yang ada haruslah maksimal sebesar 30% dari total penghasilan yang kita dapatkan. Jika kurang lebih baik, jangan sampai lebih
  • Uang yang akan dialokasikan untuk masuk ke pos tabungan, sebaiknya disisihkan di awal pada saat kita mendapatkan penghasilan / gajian
  • Lebih baik kita membuat satu rekening yang terpisah khusus untuk tabungan
  • Anggap saja tabungan adalah uang hilang dan tidak bisa terpakai, kecuali untuk hal – hal yang sifatnya darurat
  • Untuk bisa menabung dengan semangat, kita harus memiliki goals / tujuan, misalnya untuk DP rumah, membeli kendaraan dan biaya pendidikan anak. Tujuan ini sebaiknya dibuat dengan detail. Misalnya : Saya harus mengumpulkan uang sebesar Rp 100.000.000,- dalam waktu 3 tahun lagi untuk biaya pendidikan anak – anak. Hal ini akan membantu kita dalam menetapkan berapa besarnya tabungan yang perlu kita sisihkan setiap bulannya
  • Kurangi makan di luar karena cost-nya cukup besar, lagipula makan di rumah tentunya lebih sehat dan terjamin kualitasnya
  • Kurangi ‘nongkrong’ atau sekedar melepas penat dengan minum kopi di luar, selain keperluan bisnis yang ‘menghasilkan’
  • Sebelum membeli barang dengan merek terkenal, pikirkan kembali apakah itu memang perlu, dan apa kelebihan yang kita dapat jika dibandingkan membeli barang yang sama dengan brand yang lebih biasa dan dengan harga yang lebih murah tentunya. Always think twice before buying things
  • Manfaatkan dengan baik semua aset dan barang yang kita miliki saat ini
  • Hanya membeli ketika sudah ‘butuh’, bukan sekedar ingin
  • Setelah menerima pendapatan, segera alokasikan sesuai pos yang ada, misal : kebutuhan bulanan, biaya sekolah anak, cicilan rumah, dan tabungan
  • Sedikit bersenang – senang dengan penghasilan yang ada bukanlah suatu dosa, alokasikan sejumlah nilai sedari awal sehingga penggunaannya tidak berlebihan dan bisa berakibat mengganggu pos lainnya
  • Biasakan membawa uang tunai dalam melakukan pembayaran dibandingkan menggunakan kartu debet maupun kredit
  • Berhati – hati dalam menggunakan kartu kredit, kembali lagi pikirkan soal keinginan vs kebutuhan
  • Berhati – hati soal kebiasaan membeli barang secara online yang sedang booming saat ini, karena saya pun pernah menjadi salah satu konsumen yang rajin memesan barang secara online. Memang, online shopping ini membuat kita merasa lebih nyaman karena kita tidak perlu susah – susah dan repot pergi ke toko tujuan, bahkan sudah cukup banyak online shop yang menawarkan gratis ongkos kirim. Tapi demi keamanan dompet, sebaiknya kita menghindari untuk membeli barang yang tidak sesuai dengan kebutuhan saat ini. Sedikit tips, biasakan untuk terlebih dahulu menaruh barang belanjaan di keranjang belanja/troli dan mendiamkannya selama beberapa hari. Dari pengalaman saya, biasanya setelah beberapa hari keinginan kita untuk membeli barang yang tidak terlalu kita butuhkan akan memudar dan kita pun akan membatalkan niat untuk memiliki barang tersebut. Jika tidak mampu menahan hasrat untuk belanja online, uninstall semua aplikasi online shopping yang Anda miliki
  • Manfaatkan promosi atau diskon yang ada
  • Untuk pembelanjaan dengan nilai yang cukup besar, Anda dapat menggunakan fitur cicilan 0% agar neraca keuangan tidak terganggu

Masih malas untuk menabung?

Coba pikirkan skenario berikut. Saat ini mungkin tubuh kita masih kuat dan sehat tapi 10 sampai 20 tahun lagi, apakah kita masih akan sekuat ini? Kita tentu selalu berdoa agar tetap sehat, tapi jika ternyata takdir berkata lain dan di usia senja, kita menderita suatu penyakit atau tiba – tiba pekerjaan yang selama ini kita banggakan tidak lagi kita miliki, dengan apakah kita akan hidup, jika kita tidak mempersiapkannya sejak sekarang?

Atau, di umur berapa kira – kira kita akan pensiun dan berapa jumlah uang yang harus dimiliki untuk menunjang kehidupan kita di masa tua, tanpa harus membebankan anak cucu kita kelak?

Jawabannya tentu variatif, tapi caranya tentu hanya satu, mulai mengusahakannya sejak sekarang, salah satunya dengan cara menabung dan berinvestasi. Karena menurut survey, sekitar 80% orang tidak memiliki dana pensiun padahal justru di masa tua itulah biaya hidup semakin besar karena semakin tua usia, semakin kita membutuhkan semacam suplemen, vitamin, obat dan sebagainya.

So, selamat menabung.

“Hidup tidak melulu soal gengsi, banyak aspek di masa depan yang perlu dipersiapkan. Ayo kita mulai menabung dari sekarang, sebelum kita menyesal.”

8 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s