Mahalnya Menjadi Sarjana

IMG_20160426_223019

Yak, Akhirnya gue lulus juga!

Tepat di tanggal 7 September 2015 lalu gue berhasil meraih sarjana ilmu komunikasi. Perjuangan yang tidak mudah dan tidak sebentar. Selama 4 tahun, tepatnya 8 semester gue berjuang di usia yang sudah tidak muda lagi. LOL.

Sejujurnya di balik kabar sukacita itu, ada banyak sekali fakta duka cita yang harus gue lalui dalam perjalanannya. Dimulai dari sejak awal Agustus 2015, gue yang sudah sangat amat desperate memutuskan untuk merelakan diri dan mengambil tambahan 1 semester untuk menyelesaikan kuliah gue. Gue pun sudah membicarakan hal tersebut kepada nyokap. Walaupun cukup menyayangkan, namun beliau berusaha mendukung gue apapun yang terjadi. Damn sweet!

Kenyataan yang pahit gue terima sejak dosen pembimbing yang seharusnya membimbing dan mengarahkan mahasiswanya agar cepat lulus malah mengatakan bahwa skripsi gue tidak akan beres di bulan Juli, walaupun ternyata benar , karena skripsi gue beresnya di bulan Agustus, tapi gue sempat merasa dismovitasi. Ditambah dosen gue yang lainnya bilang ke gue kalo skripsi itu ada setannya, setan males. Bener banget!

Gue juga ngerasain hal yang sama. Males memulai. Males menyusun. Males ke kampus. Males ketemu dosen buat bimbingan. Males ngerevisi. Males ngapa-ngapain tapi selalu kepikiran sama skripsweet eneh! Rasa dan dilemanya udah ngalahin orang yang lagi jatoh cintaa.

Tanpa disangka-sangka sebelumnya, teman gue, si Dinar yang udah beres duluan di semester 7 tiba-tiba menawarkan diri untuk mengajarkan gue soal Bab 4 Skripsi. MIRACLE did happen! Sebenarnya di semester VII lalu gue udah mendaftarkan skripsi sama PKL gue secara bersamaan. Sementara gue menyelesaikan laporan PKL gue dan sidang PKL, gue males banget nyentuh skripsi. Jadi aja gue leha-leha setelah mengajukan judul skripsi, itupun sempat ditolak dan diminta revisi berkali-kali. Sedih amat sih jadi mahasiswa tingkat akhir.

Yak, balik lagi sama teman gue si Dinar, dia bagaikan oase yang hadir di tengah pahitnya gurun perjuangan gue menggapai sarjana. Dia ajak gue ketemuan di depan UNJ, bukan kampus gue. Lokasi yang dipilih adalah lokasi yang cukup cozy dari rumahnya. Secara gue yang perlu, gue iyain segera. Gue berhutang sama lu, Nar!

Hari yang gue tunggu-tunggu pun tiba, gue ketemu Dinar. Dengan baiknya, dia bawain skripsi dia yang udah jadi, plus berkas-berkas kelengkapan yang diperlukan. Selama kurang lebih 1,5 jam gue ketemu dia, sharing banyak hal. Gue diajarin komplit soal pembahasan dan perhitungan di Bab 4. Dinar bilang dia beresin Bab 4 itu cuma semingguan. Gue jiper. Gue doain setulus hati supaya dia beneran bisa jadi dosen sesuai mimpi dia selama ini. Setelahnya, gue pun pulang dengan semangat berapi-api dari surga.

Beberapa hari kemudian, gue ga kunjung mengerjakan skripsi gue. Kalo kata orang, semangat gue itu Cuma kayak tai ayam. Awalnya aja anget, abis itu dingin, terpapar udara dan lingkungan luar. Gue tetap santai-santai sampai sekitar 2 minggu. Hingga tersiarlah kabar bahwa deadline skripsi adalah akhir Agustus, yang berarti 2 minggu lagi. Yak, tamat lu Dess! Gue pun sampai di titik ter-desperate setelah mendengar kabar bahwa adek kandung gue, si Devid bahkan sudah dapat jadwal sidang dan dia sudah memastikan bahwa dia akan lulus lebih dulu dari gue. Gue pun terpuruk.

Sejak hari itu, jam doa gue bertambah, gue pun semakin mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Setiap hari gue begadang dan baru tidur sekitar jam 1-2 pagi, padahal biasanya kurang dari jam 11 malam gue udah berada di alam lain. Gue berjuang selama  1 mingguan penuh. Satu hal yang gue tau saat itu, Tuhan begitu baik dan memberikan kasih karunia dan kemudahan yang luar biasa buat hambanya yang nyusahin ini. Karena tanpaNya, mungkin gue seharusnya udah dipecat karena gue ijin kantor 3 kali dalam seminggu khusus untuk mengurusi skripsi gue yang tertunda.

Setelah mendapatkan ACC dari dosen I, itupun tidak dengan mudah ya, gue harus berjuang buat janji sama dia. Ya, pasti semua mahasiswa tingkat akhir tau betapa ‘indahnya’ proses kehidupan yang satu ini.

Gue masih perlu ACC dari dosen II. Amazing. Dia yang biasanya susah banget ditemuin, susah banget kasih ACC dan sebagainya, tiba-tiba langsung ACC skripsi gue dong. Tepat setelahnya, gue mengeluarkan lembar bimbingan untuk dia tanda tangani, dan disitu gue terhitung masih perlu 1 pertemuan lagi dengan dia. Sekali lagi, mujizat terjadi. Beliau langsung membubuhkan tanda tangan 3x tanpa gue minta dan Beliau bersabda, “Isi aja ya sama kamu. Terserah. Toh, kamu sudah selesai kan skripsinya.”

Satu hal yang gue percaya, Tuhan begitu mengasihi mereka yang berusaha. Ya, walaupun gue sebelumnya males banget dan kurang berjuang, tapi tepat di hari gue meminta ACC dosen itu gue coba bernegosiasi dengan Tuhan. Gue bilang gue ga mau makan sebelum dapat tanda tangan komplit dari semua pihak terkait penyerahan skripsi gue, walaupun pada akhirnya gue baru bisa makan jam 4 sore. God really made my day!

Tepat di tanggal 31 Agustus 2015, hari terakhir sebelum gue harus membayar biaya kuliah 1 semester penuh selanjutnya. Skripsi gue selesai. Tumpukan kertas yang sempat menyita perhatian dan kebahagiaan gue itu berhasil dikumpulkan (baca: dibuang jauh-jauh dari kehidupan gue). Ada rasa bangga yang menyelimuti pikiran dan perasaan gue. Ah, lebai. Intinya gue seneng bangeeetttt. Akhirnya gue bebass lepasss, ga perlu lagi begadang ga penting buat ngerjain hal-hal yang memusingkan. I’m Free!

Gue sempat lupa kalo gue harus harap-harap cemas menunggu jadwal sidang. Pekerjaan kantor dan rencana dinas yang tertunda sempat membuat gue terbuai.

Seminggu kemudian, tepatnya di hari Senin tanggal 7 September 2015 lalu, terjadilah kronologis penuh drama saingan FTV menuju kelulusan sebagai berikut:

Senin, 7 September 2015.

Pukul 08.00 WIB

Tiba di kantor gue yang berlokasi di Bogor.

09.00 WIB,

Handphone gue berbunyi dan masuklah SMS jadwal sidang gue HARI INI jam 13.00 tapi harus tiba di kampus jam 12.00 WIB untuk melakukan registrasi dsb.

Gue langsung refleks teriak macem tarzan, lalu teman-teman sekantor pun kaget. Setelahnya, gue hampir digebukkin. Ya maap.

09.00 – 09.30 WIB,

Membereskan pekerjaan disertai perasaan kalut.

09.30 WIB,

Menghubungi boss untuk meminta ijin dilanjutkan dengan memesan Gojek dengan perasaan menggebu-gebu.

10.00 WIB,

Dijemput abang gojek. Perasaan udah campur aduk, cemas ga jelas. Sebelum berangkat, sungkeman dulu ke semua penghuni di ruangan kantor (sungguhan ini terjadi).

10.25 WIB,

Tiba di rumah, minta tolong abang gojek untuk nunggu, dan dia mau dong. Baik banget. Cinta deh! Langsung gue samber itu laptop, rok hitam, kemeja putih, almamater kampus, dan berbagai peralatan keperluan sidang lainnya.

10.35 WIB,

Udah siap. Godspeed! Langsung berangkat ke stasiun sama abang Gojek.

10.55 WIB,

Sampai di stasiun. Udah keringetan, ga berbentuk nih muka.

12.10 WIB,

Tiba di kampus tercinta, tepatnya di Tebet Jakarta. Teman-teman gue yang sudah rapi dan cakep menatap mirip ke arah gue yang lusuh, kucel abis perjuangan panjang naik kereta + naik bajaj, masih memakai polo shirt plus celana jeans, ditambah gue BELOM BIKIN PRESENTASI.

Setelahnya gue kurang ingat, yang pasti gue focus mengerjakan presentasi gue dengan sepenuh hati. Nyontek dikit format teman gue karena gue ngeblank banget. LOL. Sibuk ngeprint ini itu.

Tik tok tik tok.

Pukul 17.15 WIB baru kebagian sidang. EDAN.

Sekitar pukul 17.50 WIB sidang berakhir dan dosen penguji bersabda,

“Setelah kami berunding, menilai……………… dll, KAMU LULUS, tapi bersyarat”

What?!

“Syaratnya mengerjakan revisinya maksimal sebulan”

Dih, itu mah kecil.

Tengil? Emang.

Semua perjuangan yang agak fana itu diakhiri dengan gelak tawa penuh kebahagiaan.

Intinya gue pun lulus walaupun penuh dengan drama. Perjuangan panjang selama 4 tahun ini terbayar~

Khusus buat kalian, yang sedang menyandang predikat mahasiswa tingkat akhir, MARI BERJUANG SAMPAI AKHIR! Ingat, justru di saat kalian udah muak dan nyaris give up, di titik itulah garis FINISH sebenarnya sedang mendekat. Sekali lagi, SE-MA-NGAT! YOU CAN NAIL IT, GUYS!

Gue ga pernah menyangkal bahwa kuliah sambil kerja itu sulit, tapi atas apa yang sudah gue selesaikan hingga akhir, boleh dong sedikit berbangga *nyengir kuda sambil mamerin IPK 3.55, predikat: dengan pujian (cum laude)*

We are the champions, my friends! – Dessy Donat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s