Berbagai Kurikulum Sekolah di Indonesia

Sumber: pexels.com

Latar belakang aku nulis ini karena lagi sibuk nyari sekolah buat anakku. Padahal baru mau masuk playgroup tapi ternyata pilihannya banyak banget yaaa haha. Jadi sambil nyari tau soal berbagai kurikulum yang ada, sekalian aku share juga di sini. Semoga bermanfaat.

Intinya dari yang aku cari tau, umumnya kurikulum sekolah di Indonesia itu terbagi menjadi:

  • Nasional
  • National plus
  • International

Nah, yang akan aku bahas lebih lanjut cuma 3 jenis kurikulum itu ya. Karena 3 itu pun udah panjang dan lebar banget bakalan.

Pertama, kurikulum nasional.

Kurikulum ini paling banyak dan umum dipake sama sekolah – sekolah yang ada di Indonesia. Mungkin sebagian besar dari kita juga dulunya waktu muda (tua banget kesannya) sekolah dengan kurikulum ini. Kekurangan kurikulum ini: sering berubah – ubah. Begitu ganti pemerintahan atau menteri pendidikan, biasanya ada aja yang diubah. Selain itu, padet banget isinya, mata pelajarannya buanyak. Hehe.

Di setiap akhir semester, kita akan dapet rapor sebagai laporan hasil belajar. Yang pinter dapet ranking, yang kurang bisa ngikutin bisa engga naek kelas dan ada Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan. Pakemnya gitu untuk kurikulum ini, mungkin udah pada taulah ya.

Contoh sekolah nasional di Bogor ada banyak banget, baik swasta maupun negeri, tinggal dipilih – pilih aja ya.

Kedua, kurikulum nasional plus.

Simplenya, kurikulum yang dipake itu kurikulum nasional ditambah nilai “plus” yang ternyata bisa beda – beda. Ada yang plusnya karena bahasa pengantarnya bilingual, ada yang bahasa pengantarnya full Inggris atau dengan tambahan bahasa Mandarin. Ada juga yang merupakan kombinasi antara kurikulum nasional sama kurikulum internasional. Biasanya untuk yang pake campuran kurikulum ini, di akhir masa belajar, anak harus ngikutin dua kali ujian, ujian nasional sama ujian berstandar internasional. Selain itu, ada juga yang digolongin sekolah nasional plus karena gurunya native speaker, punya banyak pilihan ekstrakurikuler, atau karena setiap tahun pihak sekolah nerima 1 orang anak disabilitas, dll.

Sekolah national plus tuh umumnya muridnya ga banyak. Sekelas maksimal cuma 20 – 25 orang aja jadi tentu guru – gurunya lebih fokus.

Contoh sekolah nasional plus di Bogor ada BPK Penabur Sentul dan Sekolah Bogor Raya (yang ini campur sama kurikulum internasional, atau sekarang udah internasional ya? boleh ya pencerahannya buibuk).

Ketiga, kurikulum international.

Kurikulum internasional ini sesuai namanya, dia pakai kurikulum yang banyak dipakai sama sekolah di luar negeri sana. Enaknya kurikulum ini, mata pelajarannya ga sebanyak kurikulum nasional dan fokus belajarnya lebih ke pelajaran matematika, science dan bahasa Inggris yang emang di masa depan paling diperluin. Karena itu kurikulumnya sering dibilang menyenangkan. Di akhir, akan ada ujian berstandar internasional, jadi anak yang lulus dari sekolah ini bisa lanjut ke sekolah di luar negeri dengan lebih gampang, pake sertifikat hasil ujiannya. Pengantarnya udah pasti bahasa Inggris, dan umumnya belajar juga bahasa lain. Yang favorit itu sekarang ada tambahan bahasa Mandarin. Better kita pastiin dari awal kalau anak kita udah ada basic atau malahan udah terbiasa ngobrol dalam bahasa Inggris supaya mereka ga kaget.

Kekurangan kurikulum ini cuma 1, biayanya ga murah HAHAHA. Kurikulum international yang umum dipake di Indonesia itu IB sama Cambridge. Mari kita bedah satu – satu ya.

Contoh di Bogor ada Sekolah Pelita Harapan dan Sampoerna Academy di Sentul. Ada juga yang ga kalah mahal namanya the Intercultural School of Bogor.

Kurikulum Cambridge International

Kurikulum ini fokus supaya anak berani nyatain pendapat (kuat di public speaking juga) dan mampu mendiskusikan masalah dengan berpikir analitis. Kalau dari yang aku tau sih, kurikulum ini tuh mirip kurikulum nasional yang cukup padet, tapi diadaptasi dengan kurikulum international. Tentu bahasa pengantarnya udah pasti Inggris, buku pelajarannya juga udah standard Cambridge. Intinya, Cambridge ini mentingin juga soal teori, jadi akan ada banyak hafalan juga. Beda sama IB yang lebih banyak prakteknya, Cambridge ini lebih fokus di sisi akademis, anak2 diharapkan bisa berpikir kritis dan solutif atas masalah yang ada dan mampu bersaing secara global.

Kurikulum International Baccalaureate (IB)

Kurikulum ini lebih fokus ke keterampilan analisa, anak diharapkan bisa jadi pribadi yang kreatif dan solutif.  Fokusnya ke character building, jadi ga fokus ke sekadar teori. Pertanyaan – pertanyaannya lebih ke jawaban essay dan sekolahnya banyakkan ngelakuin praktek untuk observasi dan bikin laporan abis itu. Intinya, anak – anak dilatih jadi pribadi yang mandiri dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya (punya solidaritas dan empati), bukan cuma sekadar dilatih kreatifitas, kecerdasan emosi dan intelektualnya aja.

Nah, ada note khusus, kalau kita udah mulai nyekolahin anak di SD yang kurikulumnya international semacam IB/Cambridge ini, sebisa mungkin lanjut kurikulum yang sama sampai SMA, karena kurikulumnya tuh beda banget. Anak kita bisa kesulitan ngikutin kurikulum nasional yang beda banget dan padet banget itu. Lagi – lagi kita harus pikirin soal biaya, karena umumnya sekolah yang kurikulumnya international itu MUAHAL. Jadi pastiin dari awal kita udah hitung dan siapin dana pendidikan anak kita sampai lulus SMA minimal. Paling ideal sih sampe kuliah sekalian hehe. Untuk menjawab juga pertanyaan,” kenapa sekolah international mahal?” karena guru – gurunya terlatih, ditraining berkala, bukan abal – abal.

Intinya, jangan sampe anak kita putus sekolah (mahal) di tengah jalan.

Jadi kalau direkap lebih simple, kurikulum IB ini lebih fokus ke observasi lewat praktik dalam kehidupan sehari – hari dan seringnya ada ngerjain tugas di akhir sedangkan Cambridge lebih berfokus ke sisi akademis karena diharapkan anak mampu bersaing secara global. Please correct me if I’m wrong.

Sebagai tambahan, ternyata sekarang banyak juga sekolah yang pakai kurikulum Cambridge tapi metode ngajarnya pakai kurikulum IB, contohnya di Sekolah Pelita Harapan (beberapa cabang), Sampoerna Academy dan Binus International School.

Selain itu, ada juga yang pakai kurikulum Cambridge (buku cetaknya) tapi metode ngajarnya ngikut nasional (kurikulum national plus). Biasanya keliatan bedanya itu di biaya sekolahnya. Di sinilah peran orang tua penting untuk mastiin sekolah yang dituju pakai kurikulum apa dan mana yang kiranya terbaik untuk anak.

Kurikulum Montessori

Biasanya sih sekolah playgroup, TK sampai SD yang banyak pakai kurikulum ini.

Kurikulum ini fokus ke 5 hal:

  • Praktik kehidupan (melakukan kegiatan sehari – hari yang melibatkan keterampilan dan kemandirian)
  • Pendidikan kesadaran sensori (melatih kepekaan dengan menggunakan lima indera) misal main pasir, tanah liat, slime, play dough, dll.
  • Seni berbahasa (mendorong anak – anak untuk ngutarain pendapat dengan mengekpresikan diri mereka secara verbal)
  • Matematika dan geometri (belajar tentang angka menggunakan tangan dan alat)
  • Budaya (meliputi beberapa di antaranya geografi, sejarah, musik, sains dan seni.

Biasanya sih sekolah dengan kurikulum ini ngebebasin anak – anaknya untuk milih kegiatan yang mereka suka, dan anak ga difokusin untuk ngejar nilai setinggi – tingginya tapi lebih fokus ke karakter dan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Ditambah banyak alat – alat peraga dan permainan Montessori seru yang mendukung kurikulum ini, jadi wajar biaya sekolahnya tergolong mahal. Karena ya itu, alat – alat sama training gurunya ga murah.

Contoh sekolah Montessori di Bogor ada Cita Harmoni, Bogor Montessori School dan Little Jamboree.

Selain 3 kurikulum international itu, sebenernya ada lagi kurikulum lain yaitu International Primary Curriculum (IPC) dan Singaporean Primary School Curriculum (SPC) cuma karena aku belum pernah denger sebelumnya, aku ga bahas ya hehe.

Kalau aku pribadi, udah sepakat sama suami, playgroup dan TK akan masukkin anakku ke sekolah yang pakai kurikulum Montessori dengan pertimbangan supaya anak bebas bermain dan ngalamin proses pembelajaran yang menyenangkan di usia dini. Rencana masukkin sekolah di tahun depan pas anak umur 3,5 tahun, tahun ajaran 2023/2024. Tapi rencana SD-nya mau masukkin ke salah satu sekolah swasta nasional aja di Bogor.

Akhir kata, sebaiknya semua dibalikkin lagi ke budget yang ada dan kesepakatan antar orang tua juga, karena sekolah itu bukan untuk 1 atau 2 tahun tapi panjang periodenya. Butuh kesiapan MENTAL dari anak dan DANA yang ga sedikit. Sisain dana buat HEALING, jangan maksain diri di luar kemampuan nanti PENING.

Kalau kalian gimana? Boleh ya, share di kolom komentar untuk insightnya.

Sekian sharing dari aku. Semoga bermanfaat ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s